Menuju tahun 2012, aku ingin mengucapkan selamat tinggal hal yang tidak berguna, dan selamat datang keinginan dan komitmen baru dalam menjalani sisa hidup. Terdengar picisan memang, tapi nilai kehidupan seorang manusia ada pada perjalanan tingkat kesadarannya. Jadi bagi yang menganggap bahwa ini adalah sebuah pernyataan yang picisan, hanya pada waktunya pernyataan ini akan menjadi tepat…

Written by

×

LAHIRNYA SEORANG PENULIS…

Menuju tahun 2012, aku ingin mengucapkan selamat tinggal hal yang tidak berguna, dan selamat datang keinginan dan komitmen baru dalam menjalani sisa hidup.

Terdengar picisan memang, tapi nilai kehidupan seorang manusia ada pada perjalanan tingkat kesadarannya. Jadi bagi yang menganggap bahwa ini adalah sebuah pernyataan yang picisan, hanya pada waktunya pernyataan ini akan menjadi tepat disaat ia dilahirkan kembali.

Konsep reinkarnasi tidak semata – mata kematian raga. Ketika manusia mau melangkah dengan kesadaran yang baru, maka sesuatu ada yang ditinggalkan, dan sesuatu ada yang dilahirkan.

Manusia hidup dengan berjuta – juta keputusan yang tidak akan pernah habis. Setiap keputusan baru, adalah kelahiran. Setiap kelahiran adalah sebuah tujuan. Setiap tujuan adalah janji untuk sebuah perjalanan, dan setiap perjalanan adalah kehidupan. Betapa inti dari setiap keputusan adalah nilai berharga dalam perjalanan kehidupan kita.

Tahun ini aku mau melahirkan sebuah jantung baru. Degup seorang penulis yang akan mengantarkan semua hal yang selama ini aku pendam, dan akan menjadi sebuah pabrik yang mengubah hal yang bisa terlupakan menjadi sesuatu yang abadi, yaitu tulisan.

Tanggal 26 Desember 2011, seorang sahabat meninggal. Beliau adalah seorang penulis. Kami tidak bernah bertemu secara fisik, bahkan tidak pernah mendengar suara kami masing – masing. Tapi hari itu, aku sempat hening, mendengar berita kematiannya. Hening ini sangat berarti banyak. Betapa aku sadar bahwa aku tidak pernah merasakan kematian seorang sahabat dengan cara seperti ini.

Tiba – tiba seperti berlembar – lembar kertas putih kosong menutupi imaginasi pikiran. Perasaan hampa dan kosong. Seperti itulah kemudian aku tersadar bahwa kematian seorang penulis begitu dahsyat. Matinya seorang penulis adalah berhentinya subsidi ide dan pikiran dari seorang yang selama ini kita ikuti. Aku jadi tersadar bahwa kertas – kertas kosong ini hanya akan menjadi kosong, kecuali seseorang mau menerima kertas kosong itu untuk diteruskan dan dituliskan oleh orang lain… tapi siapa orang lain yang bisa, karena kertas itu melayang dalam kepalaku.

Maka aku memutuskan, aku harus lahir sebagai penulis. Bukan sekedar penulis seperti aku yang dulu, tapi seorang penulis yang berkomitmen. Seorang penulis yang percaya bahwa tulisan itu ada karena kertas kosong melayang dalam pikiran kita dan itu tidak boleh dibiarkan begitu saja. Kertas putih yang kosong bukanlah simbol pikiran kita yang kosong, tapi simbol tindakan kita yang kosong. Pikiran akan selalu ada, namun pikiran tanpa tindakan hanya akan sama saja dengan kematian. Tapi tidaklah baik jika kita yang hidup harus mati sebelum raga kita. Meninggalnya temanku ini, menjadikan aku melangkah untuk lahir, meneruskan kertas yang berisi untuk selalu terisi. Tindakan yang berguna, dan kesadaran yang nyata mengantarkan kita semua pada satu titik yang sama, yaitu kehidupan itu sendiri.

 

Lan Fang, kita memang tidak pernah bertemu. Tapi kita pernah saling menulis, dan oleh karena itulah kita akan selalu ada dan hidup. Seorang penulis adalah seorang yang hidup. Dan seorang penulis yang mati, adalah seorang penulis yang akan melahirkan penulis yang lebih banyak lagi.

Kita tidak bertemu, kita tidak saling mendengar suara kita, tapi pikiran kita pernah saling bersentuhan. Engkau mendengar pikiranku, dan aku mendengar pikiranmu. Maka ketika engkau tidak ada, itu membuatku merasa harus lahir, agar kertas – kertas dalam pikiranku tidak kosong. Terima kasih atas kematianmu, aku berani berkata bahwa aku ingin menjalankan apa yang pernah engkau katakan padaku….

“seorang penulis lahirnya sudah penulis, tidak perlu bertanya lagi, ia sudah menulis”