Bulan februari sudah mulai.
Setelah melalui satu bulan pertama di tahun 2012, ternyata saya harus mengakui, menulis bukan pekerjaan yang mudah. Sama seperti berdoa… kita sebenarnya mudah sekali untuk berdoa. Tidak ada peraturan, tidak ada prestasi, dan juga tidak ada tuntutan.
It’s the most 2 easiest things to be done…
Tapi hal tersebut tidak seperti perut lapar.
Manusia dengan perut lapar akan mencari makan, sehingga manusia akan selalu makan. Tinggal masalah tepat waktu dan memperhatikan kandungan gizi. Jika kita lalai akan hal tersebut, berarti kita akan rusak secara perlahan. Tapi satu hal yang pasti, perut lapar pasti mencari makan. Padahal jika kita mau perhatikan dengan teliti, makan itu lebih sulit daripada menulis dan atau berdoa.
Saya sebenarnya bukan kesulitan dalam menulis, ataupun berdoa. Tapi kendala yang terjadi adalah saya tidak mempunyai rasa “lapar” dalam hal tulisan maupun doa. Tapi alam sadar dan logika saya sudah mengingatkan bahwa menulis dan berdoa ini adalah dua hal terpenting dalam hidup saya. Mengapa?
Karena ketika saya menulis, pada akhirnya saya akan tahu dimana sebenarnya posisi saya dalam kehidupan.
Dan ketika saya berdoa, saya akan mengetahui kemana saya akan menempatkan posisi saya dalam kehidupan.
Mengapa demikian?
Saya merasakan bahwa menulis itu adalah perjalanan dalam diri. Kita mendengarkan suara dalam hati kita, kemudian kita menatanya menjadi sebuah wacana yang harus diikat dalam struktur dan aturan bahasa. Secara langsung, kita berarti menata hidup kita dalam kata – kata. Apapun bentuk dan isi tulisan itu, yang namanya mengatur tata kehidupan dalam kepala tetap berlangsung, dan itu menyebabkan sebuah proses berharga telah terjadi dalam diri kita, yaiut proses mengetahui keberadaan diri kita.
Lalu bagaimana dengan berdoa? Sama. Berdoa merupakan proses dialog, terhadap suatu ruang yang kita yakini memiliki kekuatan yang sangat besar dan paling besar. Begitu besarnya kekuatan itu, sehingga kita akan menjadi kekuatan itu, jika kita berbicara dengan kekuatan itu.
Jika manusia menyadari kekuatan yang sangat besar itu sedang diajak bicara, maka sudah pasti hal yang akan kita bicarakan adalah bentuk harapan dan cita – cita.
Itu adalah hal yang sangat penting. Harapan dan cita – cita adalah sebuah bentuk arah tujuan dalam hidup kita.
Jadi saya yakin, menulis dan berdoa adalah dua hal penting. Tapi seberapa penting, hingga harus dilakukan setiap hari?
Ini yang menjadi kesulitan saya.
Jika saya ditanya, mengapa manusia harus makan? Jawabnya mudah, karena kita dapat merasakan lapar.
Perasaan lapar ini adalah mekanisme tubuh kita yang bekerja sama antara sistem dalam tubuh kita dengan kebutuhan kita, kemudian menginformasikan ke dalam pemahaman kita, yaitu lapar. Lapar ini bentuknya sebenarnya tidak enak, tapi sangatlah berguna. Manusia normal tidak akan mengacuhkan perasaan yang tidak enak ini.
Dalam kehidupan spiritual ini, saya menganalogikan rasa “lapar” dalam proses kehidupan sebagai kondisi emosional.
Manusia memiliki kondisi emosi, yang sering tidak terkendali. Terkadang kita marah, terkadang kita bahagia, sedih dan macam – macam. Perasaaan dan emosi itu tentunya bukan hal yang buruk, jika mereka keluar pada waktu yang tepat. Tapi apa yang terjadi jika kita tidak mampu mengendalikan perasaan kita? Itulah yang saya katakan dengan “lapar” tadi.
Alangkah bahagianya kita, jika sebagai manusia kita mampu merancang, menyusun dan menata emosi kita sesuai kebutuhan.
Bagi saya, menulis itu merupakan proses pencernaan. Apa yang kita tulis, berdasarkan dari apa yang kita pikirkan tentunya beragam. Topiknya tidak pernah sama, namun apapun itu, secara sadar kita sedang berproses dan berdialog dengan diri kita sendiri. Inilah proses yang menurut saya menjadikan kita sadar akan diri kita, dan tentunya dimana kita “berada”.
Kesadaran akan keberadaan kita merupakan modal utama untuk mengendalikan emosi kita. Jika kita sadar akan diri kita, tentu kita juga akan sadar, emosi seperti apa yang sedang dan akan melanda kita.
Bagi saya, emosi bukan untuk dilawan, melainkan untuk diikuti. Emosi adalah hadiah dari Tuhan yang paling konstan dan selalu disesuaikan dengan kebutuhan kita. Otak dan pikiran kita bisa saja mengira bahwa kita akan bahagia hari itu, namun sepertinya kita bisa salah perkiraan dan ternyata menjadi sedih di hari itu. Seandainya kita bisa menyadari dan mengetahui bahwa kita akan merasa sedih di hari itu, tentunya kita tidak akan merusak hari kita dengan pergi ke tempat yang bisa membuat kita menjadi tenggelam dalam kesedihan itu, atau malah merusak harinya orang lain dengan membuat kesedihan kita menjadi hal yang merugikan bagi diri kita maupun orang lain. Kalau hari itu saya sadar bahwa saya akan merasa sedih, maka saya akan berada di suatu tempat dimana kesedihan itu bisa menjadi hal yang indah, misalnya dengan menulis surat atau mendekatkan diri kita terhadap hal yang melankolis atau dramatis. Kesedihan itu bisa menjadi semacam inspirasi untuk karya tertentu yang memang hanya bisa dihasilkan bila kita sedih. Puisi, lagu sedih, kisah ataupun gambar yang bercerita tentang perasaan yang sangat dalam dan hening hanya bisa terjadi dalam suasana sedih.
Lalu bagaimana dengan doa?
Suatu keajaiban dari doa menurut saya sama halnya juga seperti proses pencernaan yang sebenarnya terjadi secara otomatis dan tidak pernah bisa kita kendalikan maupun kita rasakan. Mungkin bisa kita rasakan, tapi tidak dalam bentuk perasaan yang sama dengan indera kita. Doa menurut saya adalah proses yang sangat sederhana.
Setiap kali kita berdoa, kita pasti menutup dunia nyata dan horisontal kita, dan mengubahnya menjadi frekuensi komunikasi vertikal. Kita mengenalnya dengan kata Tuhan, tapi bagi saya, doa itu adalah jalur komunikasi terhadap diri kita terhadap arah dan tujuan kita. Sering kali kita mengatakan bahwa Tuhan akan mengabulkan doa kita, dan itu sangatlah saya pahami.
Jika kita berdoa, kita pasti dalam keadaan ingin terhadap kondisi. Apakah kondisi itu akan terkabul dari kekuatan yang tidak terlihat? Ya! Diri kita adalah manifestasi terhadap kekuatan itu. Kondisi akan tercipta jika kita mengetahui apa yang saat ini kita rasakan. Jadi bagi saya, berdoa adalah tahap kita menggunakan kesadaran dan kondisi emosi kita untuk mewujudkan kondisi di dunia nyata dan berkarya. Inilah kekuatan doa.
Dalam doa, kita menyatakan iman kita, dan menyatakan kesadaran kita, dan dengan itu kita menentukan arah kita.
… selebihnya sangatlah sederhana… kita tinggal menjalani kesadaran dan arah kita.
Jadi, selamat menulis, dan selamat berdoa… sampai akhirnya kita sampai pada tujuan kita. Cheers!